Kamis, 12 Desember 2019

Fariza Liana

Sampah Plastik Picu Berbagai Masalah di Wilayah Pesisir Indonesia
Indonesia bertekad untuk membersihkan sampah plastik yang bertebaran di seluruh wilayah perairan Nasional. Sampah tersebut, diyakini bisa menimbulkan dampak buruk yang tidak pernah diduga sebelumnya, yakni kemiskinan. Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan belum lama ini mengatakan, sampah plastik yang ada di laut Indonesia saat ini secara keseluruhan telah menimbulkan kerugian yang tak sedikit. Bahkan, dia tak ragu menyebut kerugiannya sudah mencapai USD1,2 miliar. “Itu untuk kerugian yang ada di bidang perikanan, perkapalan, pariwisata dan bisnis asuransi,” ujar dia disela-sela acara Konferensi Kelautan PBB di New York, Amerika pada minggu kedua Juni 2017. 
Dengan kerugian sebesar itu yang berasal dari berbagai bidang, sampah plastik jika tetap dibiarkan bisa menimbulkan dampak lebih buruk di masyarakat. Dampak yang dimaksud, adalah pengangguran dan itu bisa memicu kenaikan angka kemiskinan di masyarakat.

 
Semakin tingginya produksi sampah di laut untuk bisa sama-sama terlibat dalam mengatasi persoalan sampah di laut. Dengan bekerja secara bersama di masing-masing negara, persoalan sampah ke depan secara perlahan bisa diatasi. Beberapa rencana disiapkan, di antaranya bagaimana mengubah perilaku masyarakat berkaitan dengan pengelolaan sampah, khususnya sampah plastik.
Agar sampah di laut bisa segera diatasi, Pemerintah perlu melakukan kampanye untuk mengubah cara pandang masyarakat tentang sampah dan kampanye melalui kurikulum di sekolah.
Tak hanya langkah-langkah di atas, langkah lebih konkrit juga dilaksanakan Indonesia, salah satunya dengan kampanye pengurangan penggunaan tas plastik, mendorong penggunaan plastik dari bahan alternatif dan memanfaatkan limbah plastik untuk campuran aspal jalan.
Dalam pertemuan East Asia Summit yang diadakan pada 2015 di Kuala Lumpur, pemimpin EAS dan ASEAN dengan tegas menyatakan bahwa pencemaran laut adalah tantangan lintas batas yang harus ditangani secara efektif untuk mencapai pembangunan laut yang berkelanjutan.
Kesimpulan tersebut didasarkan pada kepedulian negara-negara EAS yang kuat terhadap kesehatan laut dan lautan. Hampir semua negara peserta EAS adalah negara pesisir yang memiliki nilai maritim dan kesehatan laut sebagai kunci pengembangan ekonomi.  
Dengan fakta tersebut, kerja sama kelautan menjadi langkah strategis untuk menyelesaikan masalah plastik di laut dan diharapkan bisa menjadi fondasi kuat untuk kerja sama kelautan di ASEAN. Juga, sebagai jembatan perbedaan pandangan negara ASEAN tentang pengelolaan limbah.
Keberadaan sampah plastik yang produksinya semakin tinggi di laut Indonesia, mengancam kehidupan ikan, mamalia, burung laut, dan terumbu karang. Lebih parah lagi, sampah plastik laut telah membanjiri pantai yang indah, tujuan wisata dan bahkan pulau-pulau terpencil. Mereka yang terkena dampak negatif ekonomi ini adalah penduduk lokal, karena wisatawan tidak akan kembali mengunjungi tempat-tempat yang penuh sampah plastik.
Dari masalah ini dapat menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi manajemen pengelolaan sampah plastik di laut. Mengingat, sampah yang ditemui di suatu perairan kadang berasal dari luar daerah tersebut, sehingga pengelolaan sampah plastik pun perlu melibatkan banyak pihak terkait. Sampah sangat berdampak pada lingkungan dan kesehatan, oleh sebab itu kurangilah penggunaan plastik dan tidak lagi untuk membuang sampah sembarangan.